RSS

The Laundry Show (Launched)

Ini kisah nyata gue dan anak buah gue.

Ternyata punya anak buah bego lebih susah daripada punya bos bego atau bos gila. Gue ga nyangka kalo ternyata ngurus orang itu emang susah. Kadang, gue sampe pengen pelihara robot aja. Enak kan? Ga pernah ngeluh, ga bisa sakit. Robot juga ngga punya Lebaran atau Natalan, jadi gue ngga usah pusing ngasih THR. Pikir-pikir, pelihara ayam juga masih lebih enak daripada pelihara pegawai, ngga usah disuruh udah bertelor sendiri. (Kalo ada ayam yang diomelin dulu baru bertelor, gue malah heran).

Selain pegawai resek, gue juga punya banyak pelanggan berkelakuan minor.  Gila apa jaman gini, ngeluarin 30 rebu terus elo dah bisa jadi raja? Padahal, tempat laundry itu harusnya dianggap kayak keluarga. Coba bayangin, berapa banyak orang yang tau warna kolor pelanggannya? Gue dan anak buah gue tiap hari liat kolor pelanggan. Bahkan tuh kolor kita pegang-pegang dengan hati tulus tanpa membayangkan isinya.

“Pocong aja langsung nelen meja strika begitu baca buku ini. Ga percaya? Tanya toko sebelah!” (Albert Forthboxx; Public Relation Univ. Bina Nusantara, anak band yang jualan alat ngeband)

“Mas-mas tolong panggilin tukang dongkrak dong, nih cerita tempat laundry bikin otak saya turun 3 cm.”(kyosho_id; kaskuser addict yang diam-diam jualan burung hias)

“MANTAAAAAAAAAAAAAP! Kalo ada yang ngga ngakak bacanya, ane janji nelen Jembatan Semanggi, Gan!. Asal nelennya rame-rame bareng ente. Wajib dibaca sebelum kiamat, Gan!” (Wenpri Andy; Senior Art Director Lukent Comm yang cinta parfum duren)

 
3 Comments

Posted by on February 28, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

Antara Thailand dan Indonesia

Ngga terasa, sebulan lebih berlalu setelah gue balik dari Thailand. Dan naskah buku traveling gue juga hampir selesai. Ini bakal jadi pengalaman pertama gue nulis buku directory buat backpacker.

Sedikit cerita tentang Thailand, tahu ngga kalo kebanyakan turis indonesia itu banyak di temui cuma di Bangkok, apalagi kalo bukan untuk belanja. Sementara, di kota-kota lain seperti Chiang Mai, jarang banget bisa ketemu backpacker dari Indonesia.

Bukan hal baru, jika Thailand menjadi tujuan wisata turis manca negara.  Paling tidak dilaporkan bahwa sebanyak 23,9%% warga Korea Selatan memilih Thailand sebagai tempat tujuan wisata bulan madu favorit. Angka ini adalah yang tertinggi, diikuti oleh Hawaii, Bali dan Eropa Barat. Tak heran jika warga Korea Selatan termasuk penyumbang kunjungan wisatawan terbesar ke Thailand. Selain warga Korea Selatan yang menempati posisi ke 5, Department of Tourism Thailand menyebutkan bahwa  warga Malaysia menempati posisi  tertinggi ( 2,47 juta orang). Dibawahnya ada China (1,76 juta orang), Jepang (1,12 juta orang) dan Rusia 1,01 juta orang). Sementara di Bawah Korea Selatan ( 1,01 juta orang), berturut-turut ditempati oleh India, Laos, Australia, Inggris dan Amerika. Pada tahun 2011, dilaporkan jumlah turis asing yang berkunjung ke Thailand adalah 19,1 juta orang dan 55% dari turis yang datang  adalah return visitor.

The Wooden Tample. Tample yang dibangun dengan uang pribadi oleh salah seorang warga Thailand. Bukan hal baru kalau orang kaya atau seniman di Thailand membangun temple pribadi yang sekaligus mengharumkan nama kotanya.. Sumber: Koleksi pribadi

The Wooden Tample. Sumber:Koleksi Pribadi

Tuk Tuk. Kendaraan khas Thailand. Sumber: Koleksi Pribadi

Karena orang Indonesia jarang terlihat, kecuali di mal-mal kota Bangkok, menarik untuk bertanya “apa yang warga Thailand tahu soal Indonesia” . Dan kebetulan, gue banyak waktu bertanya pada orang awam, dalam hal ini para supir angkutan umum yang gue temui, yang sebagian sudah melatih diri untuk berbahasa ingris. Ternyata mereka punya pengetahuan yang minim soal Indonesia. Mau tahu apa yang ada di kepala mereka soal Indonesia? Ini dia:

- Indonesia itu nama lain dari Borneo. Dan salah satu supir yang gue temui, menyebut Indonesia dengan “Orang Utan Country”, karena dia pikir sebagian besar wilayah Indonesia itu hutan dan penduduk indonesia sedang rebutan wilayah dengan Orang Utan. Mungkin ini karena santernya berita pembantaian Orang Utan di Kalimantan. (Gue sempet mikir, nih orang apa ngga nonton berita, atau seumur hidup cuma nonton film DR MONROE-nya  Val Kimer.

-Supir lain menyangka Papua New Guenia itu bagian Indonesia.Kwak kwawwww… mungkin dia pikir orang Indonesia masih pada pake koteka. (Gue langsung mau nutupin muka pake parabola begitu tuh supir ngomong begitu)

-Supir lain tidak tahu kalau Jakarta itu ibu kota Indonesia. Dan ngga percaya kalau di Jakarta, banyak gedung tinggi.Tentu, dengan susah payah, gue berusaha menjelaskan (termasuk pembangunan yang tidak merata). Sayangnya, sang supir bilang kalo di TV, “daerah tertinggal” di Indoensia lah yang sering dia tonton.

-Thailand punya batik dan mereka ngga pernah denger kalo batik sudah ditetapkan oleh Unesco sebagai kekayaan budaya yang berasal dari Indonesia. Dan sebagian pedagang baju lebih percaya kalau batik adalah buatan China daripada Indonesia. Secara, produk garmen dari China juga sudah mulai menguasai Thailand.

-Bali adalah negara terpisah dari Indonesia. Bahkan salah satu portal perjalanan wisata memasukan Bali sebagai nama negara, berdampingan dengan Vietnam, Philippine dan Singapore. Terus nama Indonesia? Ngga disebut! Kwak kwaaaaaaaw….

Yup, walau itu ngga mewakili semua orang Thailand, karena semua supir ada di luar kota Bangkok dan secara pendidikan juga rendah. Anggap lah semua nara sumber itu cuma orang bodoh yang ngga perlu didengar pendapatnya.Tapi tetep aja miris karena ternyata hal-hal negatif dari Indonesia lebih dikenal dari hal positifnya.

Emang sih, pas gue nonton berita TV Thailand, gue berasa beda banget sama nonton TV lokal di Indonesia yang isinya selau hal negati yang itu-itu saja, kalo ngga ormas tertentu yang asyik ngebakarin tempat ibadah Ahmadiyah (tentunya sambil dijaga aparat impoten), mahasiswa ngebajak mobil plat merah karena ngga bisa ketemu aparat pemerintahnya, warga ngebakar gedung walikota gara-gara ngga puas dengan pilkada. Di Thailand, banyak banget berita tentang pertukaran budaya dan hal-hal yang menyangkut pembangunan. Yang namanya berita, ada gambar gubenur trus ada orang-orang nari atau nonton kerajinan tangan, duhhhh kayaknya sering banget. Dan yang namanya gubenur di sana, kayaknya sering  ngadain kunjungan pertukaran budaya (Pas gue nonton berita, kayaknya lagi santer kerja sama budaya dengan India). Kalo ada  berita yang rada serem, cuma ada berita truck BBM kebakar, berita kemacetan Bangkok, dan rumah kebakaran (mungkin karena semrawutnya kabel listrik di sana). Yang rada kriminal, ada satu, orang stress yang nyulik anak tetangganya. Yah, beda banget sama berita kriminal di Indonesia yang terorganisir. tawuran warga, kelompok intoleran yang nyerang kelompok lain dan… bla bla bla, capeeee deh.

Bagaimana dengan berita tentang Indoensia di Thailand. Akhirnya ada dua berita yang sempet gue nonton. Satu gue tonton di kamar dan satu di cafe. Apa ya beritanya?

-Karena keberangkatan gue pas banget sama maraknya demo anti kenaikan BBM, jadi yah salah satunya berita mahasiswa yang merusak gedung milik pemerintah.

-Berita, oknum ormas berpakaian seperti “*PI” yang merusak properti milik orang lain.

Berita tentang demo BBM, gue tonton di cafe dan dari salah satu meja yang kayaknya diisi turis Eropa cuma terdengan percakapan: What is that? Indonesia? Very riot country!

Sayang sekali, padahal ngga semua Indonesia seperti itu. Contohnya: Bali. Mungkin itu sebabnya, turis asing nganggap Bali itu sebagai negara terpisah di luar Indonesia. Ck ck ck….

Patung GWK. Ini dia di Indonesia, yang beginian ngga selesai-selesai. Mungkin, ada yang mikir kalo bangun patung beginian, ntar otomatis seluruh penduduk Indonesia jadi penyembah berhala. Sumber: Koleksi Pribadi.

Gedung di depan musium Batavia ini kondisinya  ngga terawat. Padahal kota tua di jakarta lebih bagus dari di thailand. Terutama di daerah Kota.

Well, pada akhirnya harum atau busuknya nama kita di telinga orang lain, itu semua tergantung cara hidup kita sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , ,

Waiting for The Kampretoz (Mid 2012)

Selain tugas untuk bikin 2 buku backpacker yang harus gue selesaiin tahun 2012 ini (lumayan, backpacker-an ke Thailand dan Singapore), gue sedang menunggu launching The Kampretoz di  pertengahan 2012. Dibanding 2 tulisan gue sebelumnya, The Kampretoz punya nilai kenangan khusus. Karena itu gue nuangin perhatian lebih untuk buku yang satu ini. Bahkan, walau dari penerbit kelihatannya ngga ada masalah dengan naskah yang udah mereka terima, tapi gue ngotot untuk terus memperbaiki naskah The Kampretoz (termasuk gue belajar nge-gambar untuk bikin ilustrasi di dalam buku).

Apa itu Kampretoz? Yang jelas bukan team penjinak kampret. The Kampretoz adalah nama gank gue dan temen-temen kantor yang selalu bikin pusing atasan. Prilaku anak-anak Kampretoz emang aneh, kayak orang ngga inget umur.  Buat para bos, The Kampretoz itu kampungan. Saking kampungannya, sampe dianggap gank terlarang, ngga boleh sering-sering ngumpul bareng.

ilustrasi "The Kampretoz (soon, mid 2012)"

Situasi kantor yang juga penuh kejadian ajaib, pas banget buat para kampret-kampret ber-mamah-biak. Dari bikin acara undian berhadiah total 1 Milyar yang pemenangnya temen-temen sendiri, sampe bikin investigasi yang bikin direkturnya sendiri dipecat. Gue sendiri banyak nemuin hal-hal aneh, dari punya mobil dinas angker sampe menemukan penampakan-penampakan bos gila yang bikin otak gue turun beberapa centi.

ilustrasi "The Kampretoz (soo, mid 2012)"

Gue berharap, The Kampretoz bisa jadi buku komedi yang penuh dengan nilai-nilai persahabatan. Semoga juga ngga ada bab yang dikurangin, karena ke 116 halaman A4 yang gue susun sebenernya udah penyusutan dari rencana awalnya. Banyak cerita yang agak rumit dan bisa menyinggung privasi orang yang akhirnya gue hapus. Tapi tetep, gue berharap intisari dari The Kampretoz tetap terbaca dan ngga sekedar menghibur tapi juga penuh makna. So, akhirnya gue cuma bisa menunggu sampe waktunya tiba :) Kampretoz Forever!!!

 
1 Comment

Posted by on January 29, 2012 in Uncategorized

 

Emang Bisa Hidup?

Seperti anak-anak lain, waktu kecil gue punya cita-cita sederhana, polisi atau dokter. Kalo jadi polisi, gue bisa nembakin penjahat sambil ngesot di atas kap mesin mobil kayak T.J. Hookker (serial TV tahun 80-an). Jadi guru juga keren karena bisa bikin orang lain pinter. Pas SD, gue kagum banget sama guru gue yang lebih pinter dari juara 1 di kelas gue.

Umur gue tambah beberapa tahun, cita-cita gue berubah. Orang-orang dewasa ikut menyuntikan pesan-pesan “Ssssttt, polisi dan guru, ngga ada duitnya”. Dari polisi dan guru, cita-cita gue berubah jadi insinyur. Katanya, jadi insinyur banyak duitnya dan banyak yang bisa disombongin. Waktu itu, gue pikir kelak gue bisa ngomong: Nih jembatan gue yang bangun. Nih roket gue yang luncurin dan sebagainya. Cita-cita jadi insinyur nyaris bikin gue daftar di jurusan Teknik Nuklir. Untungnya ada yang ngingetin gue kalo radiasi nuklir bikin impoten. Walau butuh 2 hari 2 malam untuk nyari arti kata ‘Impoten’ di jaman dimana mbah Google belum lahir, akhirnya kata-kata itu bikin gue merinding dan mengurungkan niat menjadi insinyur nuklir.

Biarpun tetep kuliah di jurusan teknik (bukan jurusan nuklir tentunya), gue sama sekali ngga pernah kerja di bidang yang berhubungan sama ijasah gue. Gue terlalu cepat “berubah” di tengah-tengah kuliah yang kelamaan. Dari tukang ngotak-atik animasi, designer, ngurusin merek, ngurusin sales. Belum lagi usaha yang gue jajakin, dari nyambon, bikin sabun, jadi tukang laundry. Semua ngga ada urusannya dengan gelar tertulis. Dan selalu  ”ngga nyambung” satu sama lain. Satu-satunya yang tetap sama adalah kata-kata yang selalu muncul dari orang di sekeliling gue: “Emang bisa hidup?”

Tahu ngga, di setiap fase di mana gue jadi diri sendiri selalu aja ada kata-kata yang ngga berubah “Mana lo bisa hidup dengan jadi seperti itu???” Ini kata-kata sakti yang bisa bikin orang down dan ngga yakin dengan dirinya sendiri. Temen-temen gue yang designer , dulu sering bilang: Emang jadi arsitek, bisa hidup? Itu kejadian pas gue kuliah arsitek. Sementara pas gue lulus dan jadi designer, temen-temen arsitek bilang: Emang jadi designer bisa hidup? Waktu gue berubah lagi dan masuk ke dunia marketing dua-duanya bilang, mana bisa hidup di dunia marketing?  Sampe gajah bisa bertelur, kata-kata itu ngga akan punah dari sekeliling gue. Bahkan sampai saat ini, dimana gue pingin jadi penulis dan bahkan dah ada daftar launching 3 buku lagi di tahun depan.

Jadi penulis, emang rada “ngga bisa hidup”. Dari 81% orang Amerika yang merasa punya buku untuk di tulis, hanya 5% yang akhirnya menulis buku. Dari 5% itu, hanya 40% yang bukunya bisa berjejer di toko buku terkenal. Dari buku yang terpajang di toko buku, lebih dari 60% akan dikembalikan ke penerbit karena ngga laku (dalam 3 bulan) dan dihancurkan menjadi kertas daur ulang. Lebih tragis lagi penulis yang menggunakan sistem Print on Demand (POD). Di Amerika rata-rata penulis POD, hanya mencetak 7 buku per judul. Salah satu penjual buku POD ternama di Amerika menyebutkan dengan bangga bahwa mereka mampu mencetak rata-rata 118 buku per judul (tetap saja terlihat suram). Mendingan kita menulis di Kaskus atau Kompasiana, begitu pikir gue ngenes.

Apakah karena dunia terlihat suram maka semua akan menjadi suram buat semua orang?

Jadi berubah seperti apapun gue, selalu akan ada pertanyaan “Emang bisa hidup?”. Jadi apapun sebenernya selalu ada versi gagal dan versi berhasilnya. Jadi polisi ada versi bintang empat-nya, tapi ada juga yang udah tua cuma berdiri ngatur lalu lintas. Begitu juga jadi arsitek, marketer, atau penulis. Ngga pernah ada cita-cita yang salah. Masalahnya, berapa harga yang kita mau bayar untuk jadi versi suksesnya?

pernah ngga ada di situasi seperti di atas???

Satu-satunya perubahan yang ngga bakal jadi pertanyaan orang adalah kalo tiba-tiba gue jadi Transformer. Selain Gaban dan Megaloman, Transformer adalah bentuk perubahan yang ngga bikin orang merasa perlu bertanya. Seaneh apapun itu. Percayalah! Masalahnya kita bukan tokoh karangan manusia seperti Transformer, Gaban, atau Megaloman, yang mati-hidup-nya cuma sebuah skenario. Kita mahluk bebas yang bisa milih kita mau jadi apa. Itu sebabnya akan selalu ada pertanyaan, “Memang bisa hidup?” Kebebasan kita untuk memilih akan berhadapan dengan kebebasan orang lain untuk meragukan kita. Karena kita bukan Transformer, selalu ada versi sukses dan gagal.

Terus bagaimana kalau gagal? tanya seseorang. Pertanyaan yang terlalu serius buat orang yang ngga mau pusing soal “sukses-gagal” seperti gue. Gue cuma bisa jawab: kalau gagal jadi Transformer, gue akan coba jadi Megaloman. Pokoknya gue percaya, pintu yang tertutup cuma salah satu cara gue diarahkan ke sebuah pintu yang terbuka.

 
1 Comment

Posted by on December 31, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

Maaf, ini bukan buku kesehatan :(

Minggu ini adalah minggu keberuntungan gue. Kenapa? Bayangin, pertama: 2 hari lalu gue berhasil menemukan buku gue di toko buku.Sejak 7 hari lalu terbit, kayaknya para penjaga toko buku sedang sibuk jadi santa claus sampe lupa men-display buku-buku baru :) . Kedua: 2 hari lalu, gue juga dapat hadiah komputer tablet. Ketiga: hari ini, naskah komedi gue yang lain (The Kampretoz), diterima dan siap-siap masuk tahap editing. Keempat: dua jam lalu gue menang undian sebuah hp dari salah satu majalah. Enak kan? Mmmm…, emang!

Dari sekian banyak keberuntungan gue, ternyata masih menyisikan “kesialan”. Percaya apa ngga, beberapa hari ini gue ngecek di Gramedia tentang keberadaan buku baru gue. Hasilnya lumayan bikin gue gagu sementara (untung, bukan permanen), buku gue ternyata dimasukin kedalam bagian buku kesehatan. Paling ngga itu yang tertera di data komputer yang disediakan di Gramedia. Bukan cuma kesalahan di satu tempat, tapi 2 tempat (Itu yang gue tahu).

Gimana bisa buku yang dibelakangnya (atas barcode) sudah ada tulisan Self Development bisa masuk ke bagian buku kesehatan? Emang sih, nih buku sampulnya ngga biasa. Dari judul yang ngga kayak buku motivasi pada umumnya, gambarnya pun memang mirip buku resep (ada mangkok sup tomatnya).

Untungnya, yang ngatur display pada sadar hingga walau data komputer masuk di buku kesehatan, tapi displaynya muncul di tempat yang seharusnya.

Muncul di pilar, lumayaaaan baling bawah...

muncul di floor display "buku baru", lumayan... paling ujung.

Tapi ya sudahlah, itung-itung resikonya berusaha “beda”. Mungkin ini pertanda kalo baca buku gue bisa bikin sehat. Masih untung, ngga dimasukin ke jajaran buku peternakan.

Salah tempat masih ok deh dari pada salah sebut. Menurut laporan, beberapa orang yang mencari buku Sup Tomat dan Sepatu Basah, masih sering salah sebut: Sup Tomat dan Kaos Kaki Basah, atau Jurnal Sup Basah. Mmmm emang ada sup yang kering?

But, biar gimanapun, tetep hidup gue penuh anugrah. Kalo ada hal-hal gaib anggap aja pemanis (mirip tai lalat di wajah yang tampan, ngga signifikan membuat seseorang menjadi jelek).

 
Leave a comment

Posted by on December 28, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.